Sejarah Hubungan Indonesia Dengan Korea Utara Era Soekarno
"Di tengah perang dingin dan ketegangan dunia, dua bangsa yang lahir dari perjuangan melawan penjajahan membuktikan bahwa persaudaraan dapat tumbuh tanpa terhalang perbedaan sistem pemerintahan."
Sejarah Hubungan Indonesia dan Korea Utara:
Sejarah hubungan Korea Utara dengan Indonesia era Soekarno tidak bermula dari perjanjian politik yang megah, melainkan dari kesamaan nasib kedua bangsa yang sama-sama baru merdeka dari belenggu penjajahan. Pada pertengahan tahun 1950-an, ketika Indonesia sedang menyusun fondasi negara yang baru berusia belasan tahun, Korea Utara juga baru saja keluar dari perang saudara yang menghancurkan semenanjung Korea. Kedua negara berada di posisi yang sama: harus membangun negara dari nol, di tengah tekanan kekuatan-kekuatan besar dunia. Kesamaan inilah yang menjadi benih dari sejarah hubungan Indonesia dan Korea Utara yang kemudian berkembang sangat pesat di awal tahun 1960-an.
Langkah pertama yang membuka jalan bagi kerjasama Indonesia dan Korea Utara di masa depan terjadi pada Mei 1957, ketika kedua negara menandatangani perjanjian perdagangan pertama. Meskipun belum ada hubungan diplomatik resmi, keduanya menyadari bahwa saling membutuhkan dalam membangun ekonomi nasional. Korea Utara membuka kantor perdagangan di Jakarta pada tahun 1959, dan pada tahun 1961 kantor konsuler resmi berdiri — sebuah tanda bahwa hubungan luar negeri Indonesia dan Korea Utara semakin mendekat. Fakta yang menarik adalah bahwa sejarah hubungan diplomatik Indonesia dengan Korea Utara justru berjalan lebih dulu dibandingkan dengan Korea Selatan, yang baru terjalin pada tahun 1973. Ini menunjukkan bahwa Presiden Soekarno tidak memandang blok atau ideologi dalam menjalin persahabatan antar-bangsa.
Hubungan Diplomatik Indonesia dan Korea Utara Resmi Ditetapkan 16 April 1964
Tanggal 16 April 1964 menjadi tonggak bersejarah dalam sejarah hubungan Indonesia dan Korea Utara. Pada hari itu, kedua negara secara resmi menjalin hubungan diplomatik penuh, membuka kedutaan besar di ibu kota masing-masing, dan menaikkan hubungan ke tingkat yang lebih tinggi. Keputusan ini bukan tanpa alasan; Presiden Soekarno dan Pemimpin Tertinggi Kim Il Sung telah saling mengenal dan menghormati perjuangan masing-masing sejak lama. Hubungan diplomatik Indonesia–Korea Utara yang resmi ini memungkinkan kedua negara untuk saling mendukung di forum internasional, bertukar duta besar, dan memperluas kerjasama ke berbagai bidang yang sebelumnya belum terjangkau.
Di tengah dunia yang terbelah menjadi dua blok besar — blok barat dan blok timur — Indonesia di bawah kepemimpinan Soekarno memilih jalur ketiga: bebas dan aktif. Korea Utara di bawah Kim Il Sung juga memiliki posisi yang serupa, meskipun beraliran komunis, Pyongyang tidak sepenuhnya tunduk pada Moskow maupun Beijing. Kesamaan sikap ini membuat kedua pemimpin merasa satu frekuensi. Sejarah hubungan Indonesia–Korea Utara tahun 1964 mencatat bahwa pengakuan diplomatik ini disambut hangat oleh rakyat kedua negara, karena keduanya melihatnya sebagai bukti bahwa bangsa-bangsa kecil dapat bersatu tanpa harus tunduk pada kekuatan besar dunia.
Soekarno dan Kim Il Sung: Persahabatan Dua Pemimpin yang Lahir dari Semangat Kemerdekaan
Inti dari seluruh sejarah hubungan Korea Utara dengan Indonesia era Soekarno terletak pada kedekatan pribadi antara Presiden Soekarno dan Pemimpin Kim Il Sung. Keduanya lahir di bawah penjajahan asing: Soekarno di bawah kolonialisme Belanda, Kim Il Sung di bawah pendudukan Jepang. Keduanya menghabiskan masa muda untuk berjuang membebaskan bangsanya, dan keduanya menjadi pendiri negara yang baru merdeka. Latar belakang perjuangan yang sama inilah yang membuat persahabatan Soekarno dan Kim Il Sung tumbuh begitu kuat, meskipun ideologi negara mereka berbeda jauh.
Pada November 1964, Presiden Soekarno melakukan kunjungan resmi ke Pyongyang. Sejarah kunjungan Soekarno ke Korea Utara mencatat bahwa beliau disambut langsung oleh Kim Il Sung di landasan pesawat — sebuah kehormatan yang jarang diberikan kepada tamu asing. Selama kunjungan itu, kedua pemimpin berbicara berjam-jam tentang perjuangan bangsa-bangsa yang tertindas, tentang keadilan dunia, dan tentang kemandirian bangsa. Soekarno sangat mengagumi keteguhan hati Kim Il Sung dalam mempertahankan kedaulatan negaranya, sementara Kim Il Sung melihat Soekarno sebagai inspirasi bagi seluruh bangsa Asia yang baru merdeka.
Balasan kunjungan Kim Il Sung ke Indonesia pada April 1965 semakin mempererat hubungan persahabatan Indonesia dan Korea Utara. Soekarno sendiri memimpin panitia penyambutan, dan sambutan yang diberikan rakyat Indonesia luar biasa meriah. Di Bogor, kedua pemimpin berjalan berkeliling Kebun Raya Bogor, dan di sanalah lahir simbol persahabatan yang paling abadi. Anggrek Kimilsungia yang dinamai oleh Soekarno sendiri bukan sekadar bunga, melainkan pernyataan bahwa persahabatan Soekarno dan Kim Il Sung akan terus mekar sepanjang masa, melampaui perbedaan ideologi dan batas benua.
Kerjasama Politik Indonesia dan Korea Utara di Era Soekarno:
Dalam bidang politik, kerjasama Indonesia dan Korea Utara di era Soekarno berjalan sangat erat dan saling mendukung. Kim Il Sung secara terbuka mendukung gagasan Soekarno mendirikan CONEFO — Konferensi Kekuatan Baru Berkembang — sebuah wadah bagi negara-negara yang baru merdeka untuk bersatu tanpa terikat pada blok kekuatan manapun. Sebaliknya, Soekarno selalu mendukung posisi Korea Utara yang menolak campur tangan asing di Semenanjung Korea. Hubungan politik Indonesia dan Korea Utara tahun 1960-an menunjukkan bahwa kedua negara berdiri berdampingan dalam setiap perjuangan yang melibatkan kedaulatan bangsa-bangsa tertindas.
Soekarno bahkan pernah menyebutkan adanya poros Jakarta–Pyongyang–Hanoi–Peking–Phnom Penh sebagai kekuatan penentang imperialisme di Asia. Meskipun poros ini lebih bersifat simbolis, ia menunjukkan betapa dekatnya posisi Indonesia dan Korea Utara dalam hal pandangan dunia. Sejarah hubungan diplomatik Indonesia–Korea Utara mencatat bahwa kedua negara saling mendukung pencalonan di organisasi internasional, saling mengirim pesan dukungan di hari kemerdekaan, dan selalu berusaha menyuarakan kepentingan bangsa-bangsa berkembang di forum dunia. Semua ini dilakukan bukan karena kepentingan ekonomi sesaat, melainkan karena kesamaan keyakinan bahwa setiap bangsa berhak menentukan nasibnya sendiri tanpa campur tangan asing.
Kerjasama Indonesia dan Korea Utara di Bidang Olahraga: GANEFO Sebagai Jembatan Rakyat
Pada tahun 1963, Indonesia menjadi tuan rumah GANEFO — Games of the New Emerging Forces — sebuah ajang olahraga yang lahir dari semangat anti-diskriminasi dan persaudaraan antar-bangsa. Kerjasama Indonesia dan Korea Utara di bidang olahraga terlihat sangat jelas di sini, karena Korea Utara menjadi salah satu pendukung terbesar dan peserta terkuat di ajang tersebut. Kim Il Sung mengirimkan delegasi olahragawan terbaiknya, dan tim Korea Utara meraih banyak medali di Jakarta. Sejarah GANEFO dan peran Korea Utara menunjukkan bahwa olahraga dapat menjadi jembatan yang mempererat hubungan antar-rakyat, terlepas dari perbedaan sistem pemerintahan.
GANEFO bukan sekadar pertandingan olahraga; itu adalah pernyataan politik bahwa bangsa-bangsa baru merdeka mampu menciptakan ajang sendiri yang bebas dari campur tangan kekuatan-kekuatan besar dunia. Dukungan penuh Korea Utara terhadap ajang ini memperlihatkan sejalannya visi kedua negara di era Soekarno. Bahkan setelah GANEFO selesai, pertukaran tim olahraga antara Jakarta dan Pyongyang terus berlangsung, menjadi salah satu bentuk kerjasama Indonesia dan Korea Utara yang paling dirasakan langsung oleh rakyat kedua negara.
Kerjasama Indonesia dan Korea Utara di Bidang Pendidikan dan Kebudayaan
Sejak awal tahun 1960-an, kerjasama Indonesia dan Korea Utara di bidang pendidikan mulai berjalan dengan pengiriman mahasiswa Indonesia ke Pyongyang melalui beasiswa yang diberikan pemerintah Korea Utara. Dua mahasiswa pertama, Gatot Wilotikto dan Waloejo Sedjati, dikirim ke Korea Utara pada tahun 1960 untuk belajar bahasa dan teknologi. Mereka menjadi jembatan pemahaman antara kedua bangsa, membawa pulang pengetahuan sekaligus cerita tentang kehidupan rakyat Korea Utara. Program pertukaran ini diperluas di tahun-tahun berikutnya, menjadi salah satu bentuk investasi jangka panjang dalam hubungan luar negeri Indonesia dan Korea Utara.
Di bidang kebudayaan, pertukaran seni dan budaya juga berlangsung aktif. Rombongan seni Korea Utara pernah tampil di Jakarta dan disambut antusiasme masyarakat Indonesia, sementara kesenian tradisional Indonesia juga dipentaskan di Pyongyang. Anggrek Kimilsungia yang dinamai Soekarno menjadi simbol budaya yang paling abadi, bahkan hingga kini anggrek tersebut tetap dikembangkan dan dihormati di Korea Utara sebagai tanda persahabatan yang tak terputus. Selain itu, Universitas Indonesia menganugerahi gelar Doktor Honoris Causa kepada Kim Il Sung sebagai bentuk penghargaan atas perjuangannya membebaskan negaranya — sebuah penghormatan yang memperkuat fondasi hubungan diplomatik Indonesia–Korea Utara di masa jayanya.
Perbedaan Ideologi Bukan Penghalang: Semangat Berdikari dan Juche yang Satu Arah
Hal yang paling luar biasa dari sejarah hubungan Korea Utara dengan Indonesia era Soekarno adalah fakta bahwa hubungan ini tumbuh subur meskipun kedua negara memiliki sistem ideologi yang berbeda. Soekarno adalah seorang nasionalis yang tidak menganut komunis maupun kapitalis, sementara Kim Il Sung adalah pemimpin partai komunis. Namun perbedaan ini tidak pernah menjadi penghalang, karena keduanya bersatu dalam semangat yang lebih tinggi: kemerdekaan sejati dan kemandirian bangsa. Soekarno dengan semboyan "Berdikari" — berdiri di atas kaki sendiri — dan Kim Il Sung dengan prinsip "Juche" — kemandirian dalam politik, ekonomi, dan pertahanan — pada hakikatnya berbicara tentang hal yang sama: bangsa yang bebas, tidak dijajah, dan tidak diperintah oleh kekuatan asing.
Persamaan visi Soekarno dan Kim Il Sung inilah yang membuat hubungan kedua negara begitu istimewa. Mereka tidak membiarkan label ideologi memisahkan mereka, karena keduanya melihat bahwa musuh bersama bangsa-bangsa berkembang adalah kemiskinan, keterbelakangan, dan dominasi negara-negara kaya. Inilah sebabnya mengapa hubungan Indonesia dan Korea Utara di tahun 1960-an menjadi model diplomasi yang patut dipelajari: bagaimana dua negara dengan sistem berbeda dapat bersahabat dengan tulus, saling menghormati, dan saling mendukung tanpa syarat.
Pasca-1965: Perubahan Politik di Indonesia dan Melemahnya Hubungan dengan Korea Utara
Setelah peristiwa tahun 1965 dan berakhirnya kekuasaan Presiden Soekarno, sejarah hubungan Indonesia dan Korea Utara memasuki babak yang berbeda. Pemerintahan baru Orde Baru yang dipimpin oleh Soeharto mengubah arah kebijakan luar negeri Indonesia secara bertahap. Hubungan dengan negara-negara beraliran sosialis dan komunis mulai dibatasi, sementara hubungan dengan blok barat diperkuat. Meskipun hubungan diplomatik Indonesia–Korea Utara tidak diputuskan secara resmi, kerjasama yang dulunya luas dan hangat perlahan meredup. Pertukaran budaya, pendidikan, dan perdagangan yang dulu aktif berjalan kini semakin jarang terjadi.
Namun yang menarik, Korea Utara tidak pernah melupakan persahabatan yang pernah terjalin di masa Soekarno. Nama Soekarno tetap dihormati di Pyongyang sebagai sahabat sejati bangsa Korea Utara. Persahabatan Indonesia dan Korea Utara di masa Soekarno meninggalkan kesan yang begitu mendalam sehingga meskipun hubungan antar-pemerintah menjadi dingin, rasa hormat dan penghargaan rakyat Korea Utara terhadap Indonesia tetap ada. Anggrek Kimilsungia tetap tumbuh dan berkembang, menjadi pengingat bahwa meskipun zaman berubah, ada sesuatu yang lebih abadi daripada sekadar kebijakan politik sesaat.
Kesimpulan: Warisan Sejarah Hubungan Indonesia dan Korea Utara yang Tetap Relevan
Sejarah hubungan Korea Utara dengan Indonesia era Soekarno adalah kisah tentang apa yang terjadi ketika dua pemimpin besar bertemu bukan di atas dasar kepentingan materi atau keuntungan sesaat, melainkan di atas dasar rasa hormat, kesamaan perjuangan, dan semangat kemerdekaan yang tulus. Kerjasama Indonesia dan Korea Utara di masa Soekarno mencakup politik, olahraga, budaya, pendidikan, dan perdagangan — bukan karena ada tekanan dari kekuatan besar manapun, melainkan karena kedua bangsa merasa saling bersaudara dalam perjuangan yang sama.
Warisan dari hubungan Indonesia dan Korea Utara di era Soekarno tetap relevan hingga hari ini. Ia mengajarkan bahwa perbedaan ideologi, sistem pemerintahan, maupun jarak geografis tidak pernah menjadi penghalang bagi bangsa-bangsa yang memiliki kesamaan visi: kemerdekaan sejati, keadilan, dan kemandirian. Anggrek Kimilsungia yang mekar hingga kini menjadi saksi bisu bahwa persahabatan yang didasari rasa hormat dan saling menghargai dapat melampaui batas waktu, batas benua, dan batas sistem pemerintahan. Inilah pelajaran terbesar yang dapat diambil dari sejarah ini: bahwa di atas segala perbedaan, ada kemanusiaan dan persaudaraan yang lebih besar.
